Peran Hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) Axis (pengelompokan) Dalam Stres

Sumbu HPA adalah pengelompokan respons terhadap stres oleh otak dan kelenjar pituitari dan adrenal. Pertama, hipotalamus (bagian tengah otak) melepaskan senyawa yang disebut corticotrophin releasing factor (CRF), yang ditemukan pada tahun 1981.

CRF kemudian berpindah ke kelenjar pituitari, di mana ia memicu pelepasan hormon, hormon adrenocorticotrophic (
ACTH). ACTH dilepaskan ke dalam aliran darah dan menyebabkan korteks kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon stres, terutama kortisol, yang merupakan hormon kortikosteroid.


Kortisol meningkatkan ketersediaan pasokan bahan bakar tubuh (karbohidrat, lemak, dan glukosa), yang diperlukan untuk menanggapi stres. Namun, jika kadar kortisol tetap tinggi terlalu lama, maka otot akan rusak, ada respons peradangan menurun, dan penekanan sistem kekebalan (pertahanan) terjadi.
Kortikosteroid dalam dosis terukur digunakan untuk mengobati banyak penyakit yang ditandai oleh peradangan atau sistem kekebalan yang terlalu aktif, seperti asma dan penyakit radang usus. Untuk alasan yang sama, mereka digunakan untuk membantu mengurangi kemungkinan bahwa tubuh kita akan secara imunologis menolak organ yang ditransplantasikan.
Kortikosteroid juga dapat menyebabkan retensi cairan dan tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, sangat penting bahwa respon terhadap kortikosteroid dikontrol secara hati-hati (dimodulasi). Kontrol ini biasanya dicapai dengan mekanisme umpan balik di mana peningkatan kadar kortisol memberi makan kembali ke hipotalamus dan hipofisis mematikan produksi ACTH.


Selain itu, kadar kortisol yang sangat tinggi dapat menyebabkan perubahan mental, termasuk depresi dan psikosis, yang menghilang ketika level kembali normal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar