Stres

Stres adalah fakta alam di mana kekuatan-kekuatan dari dalam atau dunia luar mempengaruhi individu, baik kesejahteraan emosional atau fisik seseorang, atau keduanya. Individu merespon stres dengan cara yang mempengaruhi individu, serta lingkungan mereka. Karena meluapnya stres dalam kehidupan modern kita, kita biasanya menganggap stres sebagai pengalaman negatif, tetapi dari sudut pandang biologis, stres bisa menjadi pengalaman yang netral, negatif, atau positif.
Secara umum, stres terkait dengan faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal termasuk lingkungan fisik, termasuk pekerjaan Anda, hubungan Anda dengan orang lain, rumah Anda, dan semua situasi, tantangan, kesulitan, dan harapan yang Anda hadapi setiap hari. Faktor internal menentukan kemampuan tubuh Anda untuk menanggapi, dan menangani, faktor-faktor yang memicu stres eksternal. Faktor internal yang memengaruhi kemampuan Anda untuk menangani stres meliputi status gizi Anda, tingkat kesehatan dan kebugaran secara keseluruhan, kesejahteraan emosional, dan jumlah tidur dan istirahat yang Anda dapatkan.
Stres telah mendorong perubahan evolusioner (perkembangan dan seleksi alam spesies dari waktu ke waktu). Dengan demikian, spesies yang paling sesuai dengan penyebab stres (stressor) telah bertahan dan berevolusi menjadi tumbuhan dan hewan yang sekarang kita amati.
Manusia adalah mahluk yang paling adaptif di planet ini karena evolusi otak manusia, terutama bagian yang disebut neo-cortex. Kemampuan beradaptasi ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan dan stres yang telah kita hadapi dan kuasai. Oleh karena itu, kita, tidak seperti hewan lain, dapat hidup di iklim atau ekosistem apa saja, di berbagai ketinggian, dan menghindari bahaya predator. Selain itu, kita telah belajar untuk hidup di udara, di bawah laut, dan bahkan di ruang angkasa, di mana tidak ada makhluk hidup yang pernah selamat. Jadi, apa yang begitu buruk tentang stres?
Kunci untuk memahami aspek negatif dari stres adalah konsep lingkungan lingkungan (lingkungan internal tubuh), yang pertama kali dikemukakan oleh ahli fisiologi Perancis, Claude Bernard. Dalam konsep ini, ia menggambarkan prinsip-prinsip kesetimbangan dinamis. Dalam keseimbangan dinamis, keteguhan, kondisi mantap (situasi) di lingkungan tubuh internal, sangat penting untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, perubahan eksternal dalam lingkungan atau kekuatan eksternal yang mengubah keseimbangan internal harus direaksikan dan dikompensasikan jika organisme tersebut bertahan hidup. Contoh kekuatan eksternal tersebut termasuk suhu, konsentrasi oksigen di udara, pengeluaran energi, dan kehadiran pemangsa. Selain itu, penyakit juga merupakan stressor yang mengancam keteguhan lingkungan interieur.
Ahli saraf Walter Cannon menciptakan istilah homeostasis untuk mendefinisikan lebih jauh keseimbangan dinamis yang dijelaskan Bernard. Dia juga adalah orang pertama yang mengakui bahwa stressor dapat bersifat emosional, dan juga fisik. Melalui eksperimennya, ia menunjukkan respons "melawan atau lari" yang dibagikan manusia dan hewan lain ketika terancam. Selanjutnya, Cannon menelusuri reaksi-reaksi ini untuk melepaskan neurotransmitter yang kuat dari bagian kelenjar adrenal, medulla. (Neurotransmitter adalah zat kimia tubuh yang membawa pesan ke dan dari saraf.) Medula adrenal mengeluarkan dua neurotransmitter, epinefrin (juga disebut adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), dalam respon terhadap stres. Pelepasan neurotransmiter ini mengarah ke efek fisiologis yang terlihat pada respons pertarungan atau lari, misalnya, denyut jantung yang cepat, dan peningkatan kewaspadaan.
Hans Selye, ilmuwan awal lain yang dikenal karena studinya tentang stres, memperluas pengamatan Cannon. Dia termasuk kelenjar pituitari, kelenjar kecil di pangkal otak, sebagai bagian dari sistem respons stres tubuh. Dia menggambarkan bagaimana kelenjar ini mengontrol sekresi hormon (misalnya, kortisol) yang penting dalam respons fisiologis terhadap stres. Selain itu, Selye benar-benar memperkenalkan istilah stres dari fisika dan teknik dan mendefinisikannya sebagai "tindakan bersama kekuatan yang terjadi di seluruh bagian tubuh, fisik atau psikologis."
Dalam eksperimennya, Selye menginduksi stres pada tikus dalam berbagai cara. Dia menemukan respons psikologis dan fisik yang khas dan konstan terhadap situasi buruk yang dikenakan pada tikus. Pada tikus yang terkena stres konstan, ia mengamati pembesaran kelenjar adrenal, ulkus gastrointestinal, dan pemborosan (atrofi) sistem kekebalan tubuh (pertahanan). Dia menyebut tanggapan ini untuk menekankan adaptasi umum (penyesuaian) atau sindrom stres. Ia menemukan bahwa proses-proses ini, yang adaptif (sehat, penyesuaian yang tepat) dan normal untuk organisme dalam menangkal stres, bisa menjadi seperti penyakit. Artinya, proses adaptif, jika berlebihan, bisa merusak tubuh.
Pengamatan ini, kemudian, adalah awal dari pemahaman tentang mengapa stres, benar-benar terlalu kuat, bisa berbahaya, dan mengapa stres kata telah mendapatkan nama yang buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar